0%
Proyek Akhir — Kelompok 5

Analisis pengaruh pengeluaran per kapita terhadap kemiskinan di Jawa dan Sumatra

Kelompok
Kelompok 5
MR
Muhammad Raafi Putra Arya
0102525009
ZF
Zhillal Fathurahman
0102525020
PP
Panca Pamungkas
0102525013
RA
Raya Aulia Abdilah
0102525016
>_ TEMUAN UTAMA โ€” Q1
Pulau Jawa r = −0.594
Pulau Sumatra r = −0.546

Korelasi negatif yang kuat & signifikan (p < 0.5) โ€” semakin tinggi daya beli masyarakat, semakin rendah tingkat kemiskinan di kedua pulau.

โœ“ H0 ditolak โ€” signifikan secara statistik

โ†“ scroll untuk menelusuri analisis lengkap

01
Tahap 1 / Problem Definition

Definisi masalah

Pulau Jawa dan Sumatra merupakan pilar utama perekonomian nasional. Proyek ini mengevaluasi secara komprehensif seluruh 8 dimensi indikator pada data riil BPS guna memetakan faktor dominan pemicu kemiskinan menggunakan pendekatan Regional Profiling dan Standardized Feature Importance untuk mendukung Evidence-Based Policy.

๐Ÿ’ก

Q1 โ€” Validasi daya beli

Apakah Pengeluaran per Kapita secara signifikan menjadi penentu linear utama tingkat kemiskinan di Pulau Jawa dan Sumatra?

๐Ÿ“Š

Q2 โ€” Faktor dominan

Faktor manakah yang menjadi penentu utama dalam memengaruhi tingkat kemiskinan di masing-masing wilayah (Jawa dan Sumatra)?

H0 โ€” Hipotesis nol
Tidak ada hubungan linear antara Pengeluaran per Kapita dan Persentase Kemiskinan.
H1 โ€” Hipotesis alternatif
Terdapat hubungan linear negatif signifikan antara Pengeluaran per Kapita dan Persentase Kemiskinan.
02
Tahap 2 & 3 / Data

Pengumpulan & inspeksi data

0
Total observasi
0
Kolom
0
Dimensi indikator
0
Pulau Jawa
0
Pulau Sumatra
โœ… Validasi lolos โ€” jumlah baris melampaui batas minimum proyek akhir (>200 baris)

>_ VISUALISASI PETA: SEBARAN KEMISKINAN (Saiz radius menandakan besaran peratusan penduduk miskin)

03
Tahap 4 / EDA

Exploratory data analysis

>_ GRAFIK 1: BOXPLOT DISPARITAS KEMISKINAN

Kesimpulan grafik 1

Secara keseluruhan, meskipun Pulau Jawa dan Sumatra memiliki tingkat median kemiskinan yang relatif sama, Sumatra menunjukkan disparitas atau ketimpangan kemiskinan yang lebih tinggi dengan adanya beberapa wilayah yang memiliki persentase penduduk miskin sangat ekstrem dibandingkan dengan wilayah di Pulau Jawa.

>_ GRAFIK 2: HEATMAP KORELASI PEARSON (BAR CHART)

Kesimpulan grafik 2

Variabel Pengeluaran per Kapita (Ribu Rp) memiliki koefisien korelasi negatif terkuat terhadap Penduduk Miskin (%). Ini menunjukkan adanya hubungan linier terbalik yang solid โ€” semakin tinggi kapasitas daya beli pengeluaran masyarakat, tingkat kemiskinan dipastikan turun.

04
Tahap 5 / Modeling

Pemodelan statistik & hasil

๐Ÿ“ Korelasi Pearson (Q1 โ€” validasi daya beli)

Pulau Jawa
r = −0.5940
p-value = 0.000003
โœ“ Signifikan
Pulau Sumatra
r = −0.5463
p-value = 0.000388
โœ“ Signifikan
โœ… Tolak H0 โ€” daya beli terbukti menurunkan kemiskinan di kedua pulau

๐Ÿ“‰ Regresi linear berganda (Q2 โ€” faktor dominan)

Pulau Jawa
coef = −2.8670
Faktor dominan:
Lama Sekolah
Pulau Sumatra
coef = −2.2260
Faktor dominan:
Pengeluaran per Kapita
05
Tahap 6 / Interpretasi

Interpretasi akhir & kesimpulan strategis

Evidence-based policy recommendations untuk Jawa dan Sumatra.

Grafik 3 โ€” Komparasi Faktor Penentu Kemiskinan: Jawa vs Sumatra

(Evidence-Based Policy Perencanaan Wilayah)

[ PULAU JAWA ] Kekuatan Indikator (Rยฒ = 0.579)

[ PULAU SUMATRA ] Kekuatan Indikator (Rยฒ = 0.355)

1
Jawaban Q1 โ€” validasi instrumen daya beli
Hipotesis H1 terbukti. Analisis statistik menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara Pengeluaran per Kapita dengan kemiskinan. Peningkatan daya beli masyarakat secara konsisten menurunkan angka kemiskinan di Jawa dan Sumatra.
2
Jawaban Q2 โ€” faktor dominan per wilayah
Pulau Jawa
Lama Sekolah
Di Pulau Jawa, sekadar ngasih bantuan uang/menaikkan daya beli (Pengeluaran per Kapita) TIDAK AKAN CUKUP untuk mengeluarkan orang dari garis kemiskinan struktural, JIKA orang tersebut tidak berpendidikan (Lama Sekolah rendah). Di Jawa, persaingan sangat ketat; uang bisa habis, tapi ijazah dan keahlian (Lama Sekolah) adalah faktor absolut yang menentukan seseorang miskin atau tidak.
Pulau Sumatra
Pengeluaran per Kapita (Ribu Rp)
Di Sumatera, cara paling absolut untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan memompa daya beli masyarakat (memastikan mereka punya uang untuk belanja) and memperbaiki fasilitas kesehatan dasar agar umur harapan hidup naik. Di sini, uang (ekonomi) jauh lebih krusial dibandingkan indikator lainnya.
3
Kesimpulan profiling wilayah

Rekomendasi kebijakan berbasis bukti

Analisis menunjukkan perbedaan karakteristik sosio-ekonomi yang nyata antara Jawa dan Sumatra.

  • 1. Pulau Jawa: Mengingat kualitas SDM menjadi kunci utama pengentasan kemiskinan, pemerintah harus berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan program pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Kebijakan harus diarahkan untuk menciptakan tenaga kerja terampil yang mampu bersaing di sektor industri dan jasa yang padat kompetisi, sehingga masyarakat dapat keluar dari kemiskinan melalui peningkatan produktivitas diri.
  • 2. Pulau Sumatera: Mengingat daya beli dan kesehatan fisik masyarakat adalah faktor yang paling menentukan, pemerintah harus berfokus pada penguatan stabilitas ekonomi rumah tangga dan peningkatan akses kesehatan dasar. Kebijakan diarahkan untuk menjaga daya beli melalui stimulus ekonomi atau modal usaha kecil, serta memastikan fasilitas kesehatan tersedia luas agar masyarakat tetap sehat dan produktif dalam menggerakkan ekonomi berbasis komoditas dan sumber daya alam.

Terima Kasih

Proyek analisis data statistik ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah terkait. Semoga visualisasi dan interpretasi ini memberikan wawasan yang mendalam serta bermanfaat bagi penelitian dan perumusan kebijakan ekonomi wilayah ke depannya.

Kelompok 5
Kembali ke Atas โฌ†

โœฆ klik area konten ini untuk mengganti palet warna background abstrak